Boleh Atau Tidak Berkaitan erat dengan HAQ dan kepentingan

StandOutCrowd
Ketika kita mendengar polemik tentang setuju-tidaknya sebuah fasilitas negara dipergunakan untuk kepentingan pribadi maka muncul perbedaan pendapat terhadap hal tersebut. Saat akan lebaran, banyak polemik tentang disetujui apa tidak sebuah fasilitas negara dipergunakan untuk urusan pribadi.

Marilah sama-sama kita mendalami sebuah kisah berikut ini untuk mengambil sebuah pelajaran :

“pada suatu malam, sang khalifah Umar bin Khattab masih berada di kantor pemerintahannya. dengan bercahayakan sebuah lampu minyak, sang khalifah memeriksa dokumen-dokumen negara. mempelajari kerumitan negara yang dipimpinnya. membuat solusi untuk masalah pejabatnya, dan banyak lagi yang dikerjakan beliau tatkala di kantor pemerintahan tersebut.

Saat sang khalifah mengerjakan tugas di kantor pemerintahan, datanglah seorang sahabat beliau untuk menemui sang khalifah. diketuklah pintu kantor tersebut oleh sahabat sang khalifah tadi. sayyidina umar pun mendengar suara ketukan dari pintu kantor. kemudian dibukakanlah pintu tersebut oleh sayyidina Umar.setelah dibukakanlah pintu tersebut, raja umar bertanya pada sahabat yang bertamu pada beliau, Wahai saudaraku, engkau datang kepadaku untuk urusan apa ? untuk urusan pribadi denganku atau urusan pemerintahan ?” tanya sayiidina Umar.

kemudian sahabat tadi menjawab, “Wahai rajaku, aku datang kepada engkau untuk urusan pribadi bukan urusan pemerintahan”. kemudian seketika itu, raja umar kembali ke ruang kantornya untuk meniup lampu minyak yang tadinya masih menyala. kemudian dipersilahkan tamu tersebut untuk masuk ke ruang kantor. setelah mereka berdua bercakap, kemudian sang tamu tadi bertanya kepada raja Umar, “Wahai rajaku mengapa engkau memadamkan lampu minyak, padahal kita berdua sedang berbicara untuk sebuah urusan, mengapa engkau berbuat seperti itu ?” tanya si sahabat yang bertamu tadi. kemudian raja pun menjawab, “Wahai saudaraku, lampu ini menggunakan minyak, dan minyak ini dibeli dari uang rakyat, posisi kita sekarang tidak berbicara untuk kepentingan pemerintahan, sungguh tidak bijaksana dan tidak amanah tatkala kita menggunakan uang rakyat yang tidak semestinya, itu termasuk perbuatan dholim, perbuatan menganiaya rakyat, sahabatku, jika engkau datang ke sini dengan tujuan untuk kepentingan rakyat dan pemerintahan pastilah aku akan tetap menyalakan lampu ini, memang beginilah kita seharusnya sebagai pemimpin yang harus dan wajib menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, tahukah Engkau pemerintahan yang saya pimpin nantinya pasti dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, sekecil apapun yang saya lakukan di sini pastilah dilihat oleh tuhan dan akan diadili di sana”

Petikan kisah di atas tarik kebuah kesimpulan bahwa mempunyai amanah yang melekat di sebuah jabatan terasa berat, karena sekecil apapun akan dihisap pada saat di Akherat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s