Menilai Rasa Syukur Kepada Allah SWT (Renungan Di Penghujung Tahun Bagi Seorang Muslim)

Menilai Rasa Syukur Kepada Allah SWT
(Renungan Di Penghujung Tahun Bagi
Seorang Muslim)

Sebagai manusia yang cerdas dan berbudi pekerti yang mulia, sudah

menjadi keharusan untuk selalu melirik, memperhatikan dan

mengintrospeksi diri terhadap tingkah laku yang diperbuat, apakah telah

melakukan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga maupun masyarakat.

Manusia terkadang lupa dan lalai atas beberapa nikmat yang telah

didapatkan. Manusia terbuai dan terpesona dengan nikmat dan

kebahagiaan sebagai hasil jerih payah yang secara maksimal diusahakan.

WASPADA Online

Oleh Edi Agusman, SHI

Sebagai manusia yang cerdas dan berbudi pekerti yang mulia, sudah menjadi keharusan untuk selalu melirik,
memperhatikan dan mengintrospeksi diri terhadap tingkah laku yang diperbuat, apakah telah melakukan yang terbaik
untuk diri sendiri, keluarga maupun masyarakat. Manusia terkadang lupa dan lalai atas beberapa nikmat yang telah
didapatkan. Manusia terbuai dan terpesona dengan nikmat dan kebahagiaan sebagai hasil jerih payah yang secara
maksimal diusahakan. Manusia sering mengalami kebutaan mata hati dan pikiran tentang apa yang telah ia perbuat.
Oleh sebab itu, tanpa disadari ia semakin jauh dari sumber yang telah di berikan keberhasilan dan kebahagiaan serta
kesuksesan dalam menjalani hidup yang sementara ini. Bahkan tidak sedikit yang sudah jatuh dalam jalan kemungkaran
dan kesesatan.

Kita sebagai seorang muslim yang selalu mengharapkan ridha dan kasih sayang-Nya dalam menjalani kehidupan ini,
tidak seharusnya menjauhi dan melupakan nikmat dan rahmat yang Allah berikan pada kita semua. Kita harus ingat
bahwa tanpa pertolongan dan rahmat-Nya yang selalu tercurah, kita tidak akan memperoleh apa yang kita inginkan
walaupun usaha tersebut sudah maksimal kita kerjakan sesuai dengan rencana dan prosedur yang matang. Untuk
itulah, kita harus mampu memahami hakikat dan rasa syukur kita pada Allah SWT, bukan hanya sekadar sebagai kajian
dan renungan, akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita dapat mengimplementasikan dalam kehidupan
kita sehari-hari.

Menguak Hakikat Makna Syukur

Secara etimologi, kata syukur berasal dari kata “syakara” yang maknanya antara lain “pujian atas kebaikan” dan
“penuhnya sesuatu”. Allah SWT. Memperkenalkan dirinya kepada makhluknya dengan menggunakan kata “syakur”
sebagai salah satu sifat-Nya, sebagaimana firman-Nya yang berbunyi: “…innahu ghafurun syakur (…Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri)” (QS. Fathir/35:30) Muhammad Quraish Shihab menyatakan bahwa jika
anda melihat makna syukur dari segi pujian, maka dapat disadari bahwa pujian terhadap yang dipuji baru menjadi wajar
bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Oleh sebab itu, segala pujian yang kita
ungkapkan kepada manusia, pada hakikatnya kembali pada yang memberikan kebaikan dan kenikmatan, yaitu Allah
SWT dalam hal ini, Allah mengajarkan pada manusia agar selalu mengucapkan Al-Hamdulilah sebagai ungkapan rasa
syukur kepada-Nya.

Kata “syukur” ini dapat juga di artikan dengan “menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan penganugerahannya”. Dari
pengertian ini dapatlah dipahami bahwa makna “syukur” ini memberikan dorongan kepada manusia agar menggunakan
segala yang dianugerahkan Allah di alam raya ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya.Dengan demikian, jikalau
kita mampu menggunakan nikmat yang Allah berikan pada tempatnya, secara otomatis kita termasuk orang-orang yang
mensyukuri nikmat Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, jikalau kita tidak mampu menggunakan nikmat yang Allah berikan
pada tempatnya, secara otomatis kita termasuk orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah SWT.

Di dalam Al-Qur’an, kata “syukur” biasanya diikuti oleh kata “kufur”, seperti firman Allah SWT. Yang berbunyi:
“…Sesugguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nimat-Ku), maka sesugguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS.ibrahim /14:7). Dari ayat diatas, kata “syukur” juga dapat
diartikan dengan “menampakkan sesuatu kepermukaan”, sedang kata “kufur” diartikan dengan “menutupi”.oleh sebab
itu, cara menampakkan nikmat Tuhan antara lain dalam bentuk memberikan sebagian dari nikmat yang Allah berikan
kepada pihak yang membutuhkan. Sedangkan cara menutupi nikmat tersebut ialah dengan bersifat kikir kepada orang
lain. Dengan demikian, dapatlah kita ketahui bahwa untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah
memberikan limpahan nikmat, kita harus mensyukuri dengan cara menampakkan rasa terima kasih kita kepada Allah
SWT. Dengan kata lain bahwa ungkapan rasa syukur tersebut tidak hanya di buktikan dengan ucapan saja, akan tetapi
lebih dari pada itu harus dilakukan melalui perbuatan.

Menakar Rasa Syukur Kepada Allah SWT.

Tanpa kita sadari, hari demi hari, minggu ke minggu, selanjutnya bulan berganti bulan begitu cepat berlalu meniggalkan
kita. Tak terasa sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru dan meninggalkan tahun yang sedang kita jalani. Begitulah
roda kehidupan yang sehari-hari kita lalui dalam meraih sukses secercah harapan yang terbaik untuk diri sendiri,
keluarga dan masyarakat di mana kita berada. Kita sadar bahwa rezeki, kebahagian dan kehancuran adalah datangnya
dari sang pencipta alam raya ini.Oleh sebab itu,kita selalu mengharapkan karunia, nikmat dan rahmat-Nya untuk
mendapatkan rezeki dan kebahagian agar kita menjadi manusia yang sukses serta mendapatkan rezeki serta
menempatkan diri sebagai orang yang dipandang dalam status sosial kemasyarakatan.

Di samping itu juga kita berharap agar Allah SWT menjauhkan diri kita, keluarga, bangsa dan negara yang kita cintai dari
bala serta kesengsaraan yang akan membuat kita hidup dalam kemiskinan. Akan tetapi, pada masa sekarang ini, tidak
sedikit manusia yang ingkar terhadap nikmat-nikmat-Nya. Kebanyakan manusia mengangap “boleh jadi dengan rasa
keangkuhan” bahwa harta kekayaan, kemewahan yang ia dapatkan semata-mata hasil kerja kerasnya. Mereka lupa
bahwa semua itu adalah berkat karunia dan nikmat Allah yang dicurahkan-Nya melalui rahmat dan kasih sayang-Nya
kepada semua manusia. Oleh sebab itu, ia merasa berat memberikan sedikit harta yang ia punyai kepada orang yang
membutuhkan.

Pada hal, pada hakikatnya, di dalam harta benda yang ia miliki terdapat sebagian hak orang miskin (orang yang
membutuhkan) yang harus diberikan yang menjadi kewajibannya Melalui makna syukur dan gambaran fenomena
manusia dalam menghayati nikmat dan karunia Allah SWT. Di atas, kita sebagai muslim yang menyakini janji dan
ancaman Allah, sewajarnyalah kita selalu merenungi dan mengintrospeksi diri apakah kita telah menggunakan nikmat-
Nya kejalan yang benar, apakah kita sudah termasuk pada orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat-Nya atau kita
telah melupakan nikmat-Nya bahkan menjauhkan diri kita sendiri dari keridhaan-Nya? Di penghujung tahun ini, mari
sama-sama kita perbaiki rasa syukur kita kepada Allah SWT. Dari diri kita sendiri agar kita tidak diberi-Nya kesulitan dan
kesengsaraan dalam menjalani kehidupan ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s