Ponsel Entry Level Masih Primadona

Gambar
Mengawali tahun 2008, Nokia merilis dua ponsel baru kategori entry level, N-2600 dan N-1209. Yang menarik, dua ponsel ini diluncurkan secara serentak di enam negara, termasuk Indonesia. Peluncuran serentak dua ponsel ini, tak urung mengindikasikan bahwa pasar ponsel entry level masih besar dan tersebar di berbagai negara. Country Manager Nokia Indonesia, Hasan Aula membenarkan pandangan tadi. ”Pasar ponsel entry level masih sangat besar,” kata Hasan.

Tidak mengherankan jika Nokia masih memberi perhatian pada produk-produk entry level. Apalagi penjualan ponsel kategori ini memberi kontribusi positif bagi pertumbuhan Nokia secara global. Pada triwulan ketiga tahun 2007, market share Nokia naik 3 persen menjadi 39 persen, dibandingkan dengan triwulan kedua 2007 yang baru mencapai 36 persen. Sekalipun pasar entry level masih besar, kata Hasan, harga merupakan salah satu elemen penting untuk pasar negara berkembang. Dua produk terbaru disebut Hasan merupakan implementasi dari survai yang dilakukan Nokia di tujuh negara pada Oktober-November 2007.

Dari survai ini diperoleh berbagai masukan mengenai perilaku konsumen, termasuk trend yang tengah berkembang. Salah satu trend yang berkembang adalah berbagi ponsel. ”Lebih dari 50 persen responden di India dan Vietnam, serta sekitar 30 responden di Vietnam mau berbagi ponsel dengan teman atau keluarga,” kata Nokia.

Karenanya dikembangkan fitur multiple phonebook untuk mendukung penggunaan telepon bersama. Nokia juga mengimpelemtasikan fitur time tracker yang memungkinkan penggunanya mengatur lama penggunaan, termasuk 80 bahasa setempat. Dengan kata lain, entry level tidak identik dengan telefoni dasar, ada kebutuhan-kebutuhan lain yang harus diakomodasi pada ponsel ini.

Pasar entry level memang menggiurkan. Banyak analisis menyebutkan, pangsa pasar produk ini mencapai 70 persen. Sekitar 20 persen merupakan pangsa mid end, sisanya untuk ponsel high end/premium. Tak mengherankan jika banyak vendor besar serius menggarap pasar ini, termasuk Samsung yang sebelumnya lebih suka bermain di pasar mid end.

Baru-baru ini, Sony Ericsson memperkenalkan empat ponsel, T270i, T280i, R306 Radio dan R300 Radio. Ponsel ini ditargetkan untuk konsumen di pasar negara-negara berkembang, termasuk diantaranya Indonesia. Kedua ponsel pertama (T270i dan T280i) memiliki dimensi dan bobot yang sama yaitu 100 x 45 x 13 mm dengan berat 82 gram. Perbedaannya hanya pada kamera. Sony Ericsson T280i sudah dilengkapi dengan kamera 1,3 mega piksel, empat kali digital zoom dan resolusi 1280×1024 piksel, sementara T270i belum. Ponsel yang dipasarkan pada kuartal pertama 2008 ini tersedia dalam dua warna yaitu perpaduan warna perak dan hitam serta warna tembaga dan perak

Dua ponsel lain yang diluncurkan Sony Ericsson, yaitu R300 dan R306 radio memiliki keunikan tersendiri. Ponsel low end ini dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan ponsel musik dengah harga yang terjangkau. Jika di kelas menengah ke atas ada ponsel walkman, maka di segmen low end Sony Ericsson mewujudkannya dengan memberikan ponsel radio.

”R300 dan R306 Radio memberikan kemudahan untuk mengeksplorasi radio untuk mendengarkan berbagai laporan mulai dari olahraga, atau program musik baik melalui siaran AM atau FM. Tak hanya fungsi, namun juga desain dan suara, benar-benar dibuat mirip dengan radio,” ungkap Vice President & Head of Entry Level Products Sony Ericsson, Howard Lewis. Dari keempat ponsel yang ditawarkan Sony Ericsson, nampaknya hanya Sony Ericsson R306 Radio yang berbeda. Selain memiliki fitur yang lebih lengkap, desainnya mengadopsi bentuk clamshell. R306 dilengkapi dengan fitur AM/FM Radio dengan RDS. Ponsel ini memiliki layar display 65 ribu warna beresolusi 128×160 piksel. Ada layar pendukung kedua yang monokrom dengan resolusi lebih kecil yaitu hanya 96×32 piksel.

Sony Ericsson R306 Radio sudah dilengkapi dengan kapasitas memori internal sebesar 5 MB dan speaker stereo untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan radio. Tak lupa, seperti T280i, ponsel ini sudah dilengkapi dengan kamera 1,3 mega piksel lengkap dengan kemampuan perekaman video. Ketersediaan ponsel ini di pasaran diperkirakan pada kuartal kedua 2008.

Spesifikasi ponsel low end memang terus berubah dari tahun ke tahun. Perubahan ini jika dilihat memang menuju kebaikan, khususnya bagi konsumen. Karena, spesifikasi ponsel menjadi lebih lengkap. Jika sebelumnya ponsel-ponsel low end minus kamera dan layar warna, kini sudah banyak vendor yang menawarkan fitur-fitur tersebut dengan harga yang semakin terjangkau. Apalagi strategi bundling yang dilakukan vendor dengan operator telekomunikasi semakin memudahkan kepemilikan handset di masyarakat.

Karena potensinya yang besar, para pemain baru juga tak kalah agresifnya. LG Mobile telah mengambil ancang-ancang untuk meningkatkan pangsa pasar di industri seluler. LG yang masih terbilang baru di pasar Indonesia memang masih berharap banyak pada pasar entry level. Untuk itu, LG Mobile berencana untuk meluncurkan puluhan handset kategori ini di tahun 2008.

”Pasar entry level memang masih mendominasi. Untuk itu kami akan mengeluarkan 15 produk kategori ini pasaran tahun ini,” kata General Manager Sales & Marketing Mobile Communication Product LG Electronics Indonesia, Andre Tanudjaja.

Tahun 2008, LG Mobile berencana untuk meluncurkan 25 model ponsel. Sebanyak 15 diantaranya merupakan ponsel entry level. Sisanya adalah ponsel menengah ke atas, dengan rincian 10 model untuk ponsel menengah dengan harga di atas Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta. Sedangkan lima terakhir merupakan ponsel untuk kalangan atas atau high end, yang harganya di atas Rp 3 juta per unitnya.

Diharapkan dengan penjualan tersebut dapat meningkatkan pangsa pasar LG Mobile dari peringkat delapan pada 2006 lalu menjadi peringkat empat atau lima tahun ini. Pertumbuhan diharapkan meningkat sebesar 200 persen. LG Mobile optimis mengingat perusahaan tersebut berhasil mencatatkan pertumbuhan hingga 500 persen dalam kurun waktu tahun 2006-2007.

Menurut Andre, masih besarnya porsi segmen entry level di Indonesia disebabkan karena karakter konsumen dan kondisi ekonomi masyarakat. Di Indonesia, konsumen masih sensitif terhadap harga (price sensitive) sehingga menginginkan produk yang memiliki fitur lengkap namun harganya murah. Karakter lainnya, lanjut Andre adalah konsumen Indonesia termasuk golongan me too. Yaitu konsumen yang menggunakan ponsel karena melihat orang lain memakainnya terlebih dahulu. Karakter ini berbeda dengan konsumen Eropa yang masuk ke dalam kategori early adaptor. Dimana, konsumen telah paham teknologi dan membeli ponsel yang baru diluncurkan dengan melihat kegunaan dan fitur-fiturnya. (Sumber: republika.co.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s