BUNDLING PRODUK Telekomunikasi sebagai sebuah Strategi Pemasaran

PENDAHULUAN
 
Dewasa ini bundling produk dilakukan oleh hampir semua operator
seluler yang saat ini dapat kita lihat iklannya bertebaran di media
massa. TelkomFlexi, Esia, Fren, XL dan lainnya berlomba untuk
menawarkan Handset murah dengan harga yang telah disubsidi dan
telah diisi atau dikunci dengan nomor kartu operator tertentu. 
Bagaimana peluang strategi bundling di Indonesia? Saat ini ada 80
juta nomor telepon yang beredar di Indonesia. Dari angka tersebut,
mungkin hanya 40-60 juta yang aktif dengan tingkat churn rate
sekitar 10%. Artinya, masih ada 160-180 juta orang yang belum
punya akses langsung untuk bertelekomunikasi. Potensi itu hanya bisa
dibuka kalau aksesnya ke perangkat semakin mudah, dan harga
perangkat yang semakin murah, serta layanan sendiri juga harus lebih
murah dari yang selama ini ditawarkan
 
KONSEP PEMASARAN
 
The American Marketing Assocciation (AMA) membuat definisi
mengenai pemasaran: “Pemasaran merupakan suatu proses
perencanaan dan implementasi dari konsep, pricing, promosi,
dan distribusi (ide, produk maupun jasa), sehingga dapat
diciptakan pertukaran agar dapat memuaskan kebutuhan
pelanggan dan perusahaan sekaligus.”
Berdasarkan definisi di atas, proses pemasaran dimulai dari
menemukan apa yang diinginkan oleh konsumen. Mengetahui
apa saja yang diinginkan oleh konsumen yang berkenaan dengan
produk, kinerja serta kualitas adalah tahap pertama yang sangat
penting dari kegiatan pemasaran. Kita akan segera memasuki pertempuran pemasaran yang sesungguhnya apabila kita mengetahui
apa yang akan kita produksi dan berusaha melakukan tindakan-
tindakan untuk memenuhi selera konsumen tersebut agar mereka
melakukan tindakan pembelian. Istilahnya saat ini bermacam-macam,
seperti customer satisfaction (kepuasan pelanggan); experiental
marketing (memberikan tambahan pengalaman baru pada waktu
konsumen menikmati produk tersebut); dreaming marketing
(memberikan iming-iming impian terhadap pemakaian produk tertentu
kepada konsumen); new generation marketing atau cohort
marketing (pemasaran yang ditujukan kepada suatu kelompok atau
segmen tertentu untuk dipuaskan seleranya); intelligent marketing
(pencarian informasi mengenai pemasaran untuk mengetahui selera
konsumen); emosional marketing (menggunakan cara untuk
membangkitkan emosi dan gengsi konsumen sebagai alat pemasaran)
serta berbagai istilah populer lainnya.
Semua ini tidak lepas dari konsep marketing yang paling dasar, yaitu
berusaha memproduksi produk/jasa untuk memenuhi selera
konsumen (value based), baik yang bersifat tangible maupun
intangible.
DEFINISI PRODUK
Dalam pemasaran, definisi produk adalah segala sesuatu yang bisa
ditawarkan ke pasar dan dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
Kepuasan konsumen tidak hanya mengacu pada bentuk fisik produk,
melainkan satu paket kepuasan yang didapat dari pembelian produk
Kepuasan tersebut merupakan akumulasi kepuasan fisik, psikis,
simbolis, dan pelayanan yang diberikan oleh produsen.
Produk identik dengan barang. Dalam akuntansi, barang adalah obyek
fisik yang tersedia di pasar. Sedangkan produk yang tidak berwujud disebut jasa. Dalam manajemen produk, identifikasi dari produk
adalah barang dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen. Kata
produk digunakan untuk tujuan mempermudah pengujian pasar dan
daya serap pasar, yang akan sangat berguna bagi tenaga pemasaran,
manajer, dan bagian pengendalian kualitas.
DIFERENSIASI PRODUK
Dalam pemasaran, diferensiasi produk adalah kegiatan memodifikasi
produk agar menjadi lebih menarik. Diferensiasi ini memerlukan
penelitian pasar yang cukup serius karena agar bisa benar-benar
berbeda, diperlukan pengetahuan tentang produk pesaing. Diferensiasi
produk ini biasanya hanya mengubah sedikit karakter produk, antara
lain kemasan dan tema promosi tanpa mengubah spesifikasi fisik
produk, meskipun itu diperbolehkan.
Tujuan dari strategi diferensiasi adalah mengembangkan positioning
yang tepat sesuai keinginan konsumen potensial yang ingin dituju.
Jika pasar melihat perbedaan produk anda dibanding produk pesaing,
anda akan lebih mudah mengembangkan marketing mix untuk produk
tersebut. Diferensiasi produk yang berhasil adalah diferensiasi yang
mampu mengalihkan basis persaingan dari harga ke faktor lain,
seperti karakteristik produk, strategi distribusi atau variabel-variabel
promotif lainnya. Kelemahan dari diferensiasi adalah perlunya biaya
produksi tambahan dan iklan besar-besaran.
 
 
 BUNDLING PRODUK
Dalam marketing, Product bundling adalah strategi untuk
menggabungkan penjualan beberapa produk menjadi satu paket
penjualan. Strategi ini sangat umum digunakan dalam bisnis software,
sebagai contoh : Microsoft memaketkan software pengolah kata,
spreadsheet, dan database kedalam satu paket Office suite yang
disebut sebagai Microsoft office suite, dalam industri masakan cepat
saji, beberapa item produk ditawarkan menjadi satu paket khusus.
Strategi ini akan memiliki tingkat keberhasilan tinggi apabila  :
  Biaya produksi rendah    
  Pangsa pasar cukup besar 
  Konsumen berminat karena ada unsur penyederhanaan dalam
proses pembelian produk dan dapat mengambil manfaat dari
pembelian produk. 
  Rata-rata marginal cost rendah 
  Customer acquisition cost tinggi 
Product bundling sangat tepat untuk produk yang memiliki volume
penjualan dan tingkat keuntungan yang tinggi. Menurut riset Yanis
Bakos dan Erik Brynjolfsson, product bundling sangat tepat dan efektif
apabila diterapkan pada produk “informasi digital” yang memilik
marginal cost nyaris nol.
Pada pasar oligopolistik dan monopolistik, product bundling akan
nampak tidak fair, karena pilihan produk sangat terbatas bagi
konsumen, hingga mereka tidak punya pilihan lain.
Pure bundling terjadi apabila konsumen hanya bisa membeli
keseluruhan paket Mixed bundling terjadi apabli konsumen bisa memilih antara membeli
keseluruhan paket atau dapat membeli secara terpisah
Jika anda perhatikan baik-baik belakangan ini, begitu banyak operator
selular maupun Fixed-Wireless Access yang melakukan bundling dalam
menawarkan layanannya. Bundling yang dilakukan bisa saja berupa
perpaduan sekian banyak layanan yang berbeda, atau perpaduan
antara layanan dan perangkat telekomunikasi yang digabung dalam
satu paket murah. Hal ini sebenarnya sudah sangat lazim terjadi di
operator asing di negara-negara maju untuk menjaring pelanggan
baru.
Bundling pada awalnya diimplementasikan pada market postpaid.
Mengapa begitu? Biasanya bundling disertai dengan suatu komitmen
karena operator telah melakukan subsidi didepan terhadap layanan
maupun perangkat telekomunikasi yang diberikan. Tujuannya adalah,
agar si pelanggan otomatis akan terikat dengan kontrak yang bisa
berlangsung antara 1 – 2 tahun dan pada kurun waktu itulah operator
akan pelan-pelan mendapatkan revenue untuk menutup subsidi dan
syukur-syukur mendapatkan margin untung yang signifikan. Customer
retention adalah tujuan utamanya. Tentunya, untuk mendapat margin
keuntungan yang signifikan, selama kurun waktu kontrak, operator
juga harus melakukan penawaran terus-menerus atas layanan-
layanannya yang lain sehingga pelanggan secara tidak sadar memakai
lebih dari sekadar basic services.
 
Konsep dari bundling sendiri sebenarnya sangat sederhana. Setiap
orang akan lebih enggan untuk mengeluarkan uang terlalu besar
dimuka, dibanding dengan menyicilnya sedikit demi sedikit sehingga
tanpa terasa semua biaya akhirnya tertutupi. Dan konsep itu dapat
dikatakan hampir benar 100%. Jika anda pergi ke luar negeri, sebut saja UK misalnya, anda akan melihat begitu banyak paket-paket
bundling yang, bahkan, menyatukan penggabungan beberapa layanan
dan perangkat telekomunikasi. SMS, akses data, voice call dan
handset terbaru di-bundling dalam satu paket murah dengan kontrak
2 tahun. Hanya dengan berbekal £0, pelanggan dapat membawa
pulang handset terbaru–bukan tercanggih tentunya, tapi cukuplah…–
dan menggunakannya saat itu juga untuk melakukan kegiatan
komunikasi. Jika ingin handset tercanggih pun, mereka tidak perlu
mengeluarkan kocek terlalu banyak dibandingkan dengan membeli
handset langsung tanpa paket. Tentu operator berani melakukan hal
ini bagi pelanggan postpaid karena untuk menjadi pelanggan postpaid
setiap calon pelanggan harus melalui survey yang ketat atas kondisi
keuangannya. Utility bills ataupun gaji bulanan adalah beberapa
contoh komponen yang disurvey oleh operator. Hal ini pastinya sangat
berguna bagi operator negara maju yang memang mayoritas
penggunanya adalah pelanggan postpaid dan verifikasi data mudah
dilakukan. Sedangkan, pada negara berkembang seperti Indonesia
yang pelanggan postpaidnya tidak lebih dari 10%, tentunya hal ini
tidak terlalu relevan.
Apakah yang dilakukan operator Indonesia?
 
Selain melakukan bundling untuk pelanggan postpaid, mereka mulai
memberanikan diri untuk menawarkan bundling bagi pelanggan
prepaid. Tindakan berani ini sudah mulai dilakukan beberapa operator
FWA maupun selular. Lihat saja bagaimana Esia melakukan bundling
dengan menjual layanan prepaidnya berikut low-cost handset ZTE
seharga Rp. 199,000 saja. Laris bak kacang goreng. Langkah tersebut
baru saja diikuti oleh Telkomsel dengan mengeluarkan bundling
layanan kartuAS dengan low-cost handset Haier seharga Rp. 299,000. Indosat pun sempat melakukan hal yang sama dengan mem-bundling
layanan prepaidnya dengan low-cost handset-nya Nokia. Bagaimana
sebenarnya model bisnis bundling layanan prepaid ini? Mengapa
mereka begitu berani?
 
Perlu diingat bahwa munculnya low-cost handset ini sendiri, atau yang
populer disebut dengan Ultra Low-Cost Handset (ULCH), adalah
gerakan yang mendunia. Tujuan mulianya adalah memberdayakan
ekonomi masyarakat melalui kemudahan berkomunikasi dengan
menyediakan handset yang affordable. Dimulai dengan initiatif GSMA
untuk mentenderkan ULCH ke beberapa handset vendor yang
kemudian dimenangkan oleh Motorola. Targetnya adalah meluncurkan
produk handset GSM dengan harga tak lebih dari US$30. Gerakan ini
disambut baik oleh beberapa operator dan vendor lain yang kemudian
berusaha membuat hal serupa. Mengapa demikian? Dari trend yang
ada saat ini, negara-negara berkembang adalah potensi terbesar
market selular dengan tingkat penetrasi yang masih rendah dimana
mayoritas market yang belum terjamah adalah masyarakat
berpenghasilan menengah ke bawah; Sementara negara-negara maju
sudah masuk pada kondisi maturity dimana penetrasi bahkan sudah
lebih dari 100%!
Selain itu, dengan lebih dari 400 produsen handset kelas C, Cina dapat
mensupply operator dengan perangkat yang relatif murah dan fitur
yang atraktif–mohon dikesampingkan dahulu masalah kualitas untuk
yang satu ini, Jadi, tren memang mengarah kesana.
 
Kembali ke masalah bagaimana bisnis model operator Indonesia,
maka kita dapat melihat dua pendekatan bisnis. Pertama adalah
sinergi dengan prinsipal vendor (atau distributor yang ditunjuk prinsipal); kedua adalah metode subsidi yang kurang lebih sama
dengan model postpaid.
Perlu anda ketahui bahwa operator di Indonesia tidak memiliki hak
untuk mengimpor handset. Hak ini hanya diberikan kepada distributor
handset saja. Spiritnya tentunya adalah bagi-bagi kue rejeki. Operator
hanya mempunyai hak untuk menjual layanan saja kepada pelanggan.
Oleh sebab itu, bundling adalah langkah kamuflase yang tepat. Nah,
untuk dapat memancing calon pelanggan memulai menggunakan
layanan selular tentunya perlu melakukan bundling tersebut. Itulah
sebabnya operator bekerjasama dengan prinsipal vendor handset…
dan gayung pun bersambut. Untuk model ini, biasanya pihak vendor
lah yang melakukan investasi handset (atau distributor yang ditunjuk)
dan handset tentunya tetap menggunakan brand originalnya.
Otomatis, harga handset masih relatif lebih mahal karena tidak ada
subsidi dari pihak operator. Tapi mengapa handset bisa murah?
Vendor yakin bahwa operator yang bekerjasama dengannya adalah
operator besar yang dapat menjual handset melampaui batas
minimum produksi. Pendekatan ini, tentu saja, hanya bisa berlaku
pada operator-operator besar, seperti Telkomsel.
Untuk model yang kedua, operator melakukan investasi dengan
membeli handset didepan, dan kemudian menjualnya dengan harga
yang lebih murah (subsidi) dengan asumsi bahwa biaya subsidi dapat
dikembalikan melalui pemakaian layanan–mirip dengan pendekatan
bundling postpaid. Dengan kenyataan bahwa operator tidak dapat
mengimpor handset, maka operator menunjuk distributor yang
dipercaya atau distributor yang memang sister company untuk
mengimpor handset tersebut on behalf of operator. Inilah yang
dilakukan oleh Esia. Oleh sebab itu handsetpun dapat dibranding
penuh oleh Esia dan di-lock hanya dapat digunakan pada network Esia. Hasilnya memang luar biasa. Dengan harga yang extra murah,
handset menjadi sangat laku. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Mungkin anda masih ingat tragedi handset Samsung hasil bundling
Fren yang di-unlock oleh beberapa oknum penjual HP yang berujung
ke meja hijau. Tinggal tunggu waktu, handset Esia bisa bernasib sama
bila tarif Esia tidak dijaga untuk terus menjadi yang termurah.
Handset tetap Esia, tapi langganan ke operator lain. Itulah fenomena
yang sekarang terjadi di Indonesia.
 
Bagaimana dengan trend di negara maju saat ini? Berdasarkan study
yang dilakukan KPMG yang dipublikasikan pada situs cellular-news,
operator negara maju mulai melakukan layanan yang lebih advance,
yaitu bundling layanan multimedia triple-play. Apakah triple-play itu?
Triple-play adalah gabungan antara video, suara dan data dalam satu
kanal atau layanan multimedia. Hal ini sebagai langkah operator untuk
menarik pelanggan baru ditengah kejenuhan pasar. Metode bundling
ini dengan digabung dengan fitur unified billing, bertujuan akhir untuk
mempermudah pelanggan sehingga menarik mereka untuk berpindah
operator. Tetapi karena ujung-ujungnya harga bundling lah yang
menjadi highlight dari program operator, alhasil akan bernasib sama:
pelanggan berpindah operator hanya untuk menikmati harga yang
murah dalam waktu singkat. Retensi bisa dikatakan tidak akan
berhasil optimal. Hasil survey KPMG tersebut yang dilakukan dengan
mengambil sample 4,400 pengguna di 16 negara (Asia, Amerika,
Eropa) menunjukkan bahwa 57% pengguna mengganggap tarif atau
harga sebagai pendorong utama untuk berpindah operator. Ternyata,
tidak hanya orang Indonesia saja yah yang price sensitive. Dari hasil
ini dapat disimpulkan pula bahwa secanggih-canggihnya sebuah
operator dalam mendeploy layanan triple-playnya, tidak akan berakibat banyak atas penambahan jumlah pelanggan. Pelanggan
dapat berpindah operator dengan mudah bila ada tarif lebih murah.
Mungkin ini bisa berlaku jamak bila number portability sudah
digunakan di semua negara termasuk Indonesia. Tetapi bukan berarti
pula hal tersebut tidak bisa terjadi saat ini juga. Dan fenomena
handset Samsung Fren adalah contoh real.
 
 
CASE STUDY – BUNDLING PRODUK ESIA
 
Ketersediaan perangkat telekomunikasi berbasis teknologi CDMA yang
minim memaksa Bakrie Telecom turut mengadakannya. Justru dengan
strategi bundling, penjualannya melonjak signifikan. 
 
Awal September 2007, ada pemandangan berbeda di Wisma Bakrie,
Kuningan, Jakarta Selatan. Di gedung yang terletak di pinggir Jalan
H.R. Rasuna Said itu, setiap hari — dari pagi hingga petang — selalu
tampak antrean panjang. Mereka bukan orang-orang yang menuntut
ganti rugi atas bencana lumpur Lapindo, melainkan orang-orang yang
ingin membeli “hape Esia”, produk terbaru yang diluncurkan PT Bakrie
Telecom Tbk. (BT).
 
Kejadian ini bisa dibilang unik. Pasalnya, hape Esia bukanlah telepon
seluler dengan fitur yang sangat lengkap layaknya Nokia E90
Communicator. Produknya tak ubahnya dengan ponsel yang keluar
pada akhir 1990-an atau awal 2000-an. Jangankan fitur push e-mail,
layanan akses Internet pun tidak ada dalam ponsel ini. Layarnya pun
tidak berwarna.
 Lalu, apa yang menarik dari hape Esia? Tingginya animo konsumen
terhadap produk ini ternyata karena faktor harga. Dengan harga Rp
199.000, berarti hape Esia merupakan ponsel baru termurah yang
pernah diluncurkan di Indonesia. Tidak hanya itu, dengan harga yang
sangat miring tersebut, konsumen tak cuma mendapat ponsel yang
sudah dilengkapi simcard Esia, tapi masih mendapatkan bonus talk
time selama 1.000 menit. Tak mengherankan, orang berbondong-
bondong ingin memilikinya.
 
hape Esia merupakan hasil kolaborasi antara BT dan Huawei, vendor
ponsel asal Cina. Menurut Erik Meijer, Wakil Dirut BT, peluncuran
produk ini ditujukan untuk memangkas barrier konsumen untuk
memperoleh akses terhadap layanan telekomunikasi. Pasalnya, dari
riset yang dilakukan, terungkap bahwa salah satu hambatan yang
dihadapi konsumen untuk mendapatkan akses terhadap
telekomunikasi adalah faktor harga. Karena itu, produk ini hanya
dipasarkan lewat channel distribusi BT sendiri, tidak dijual bebas.
Tujuannya, agar harganya tidak melambung.
 
Hape Esia bukanlah satu-satunya program bundling yang diluncurkan
BT. Satu bulan sebelumnya, BT juga menjalin kerja sama dengan
vendor ponsel asal Korea, LG, dalam sebuah program bundling. Paket
promosi Esia – LG CDMA 2330 ini dipasarkan untuk masyarakat umum
dengan harga pembelian cuma Rp 525.000; konsumen tidak hanya
mendapat ponsel warna LG CDMA 2330 dan nomor Esia prabayar, tapi
juga mendapat bonus talk time Esia senilai Rp 20.000 dan gratis 50
SMS per bulan selama 6 bulan berturut-turut.
 BT memang punya pendekatan unik dalam memasarkan produknya.
Operator telekomunikasi yang mengusung teknologi Code Division
Multiple Access (CDMA) ini dalam beberapa tahun terakhir selalu
menggunakan pendekatan bundling dalam memasarkan layanannya.
Ini sangat berbeda dari kebanyakan pemain lain di industri
telekomunikasi. Adakah BT kurang percaya diri terhadap layanan yang
ditawarkannya? .Tantangan bagi operator CDMA berbeda dari operator
GSM. Pasokan ponsel CDMA di Indonesia masih sangat minim, karena
itu kami memutuskan menambah pasokan ponsel CDMA dengan pola
bundling. Selain pasokan yang minim, Erik juga menyebut bahwa
harga ponsel CDMA yang tersedia di pasar masih relatif mahal
dibanding ponsel GSM.
 
Dia menerangkan, sebagai operator, BT harus memastikan bahwa
pasokan perangkat telekomunikasi yang beredar di pasar sudah cukup
memadai. 
Contohnya, Wifone. Produk yang ditujukan untuk mengisi pasar
telepon tetap ini menurutnya punya konsep yang sangat bagus:
konsumen tidak perlu menunggu hingga berbulan-bulan untuk
mendapatkan sambungan telepon di rumahnya. Sebab, produk ini
memungkinkan konsumen langsung mendapat sambungan telepon
sesaat setelah membelinya. Sayangnya, tidak banyak vendor yang
menyuplai perangkatnya, sehingga kami memutuskan memasarkan
produk tersebut sekaligus dengan perangkatnya.
 
Strategi bundling tak hanya dijalankan BT untuk memasarkan layanan
teleponnya. Untuk memasarkan layanan akses Internetnya – lewat
produk Wimode, BT pun menempuh strategi yang sama. Erik
mengakui, memang telah cukup banyak vendor yang memasarkan modem CDMA. Hanya saja, harganya masih tergolong cukup tinggi.
Padahal menurutnya, ada segmen pasar yang juga membutuhkan
akses Internet, tapi daya belinya masih kurang, seperti kalangan
pelajar dan mahasiswa. Mereka juga membutuhkan Internet. Untuk
itu, BT pun menempuh strategi yang sama, yaitu dengan menjual
layanan beserta perangkatnya dipadu dengan tarif yang lebih murah
dan mudah dimengerti, yaitu Rp 100/menit, tidak menggunakan
charging berdasarkan Kb (kilobyte), karena sulit dimengerti oleh
konsumen. 
 
Erik mengatakan, strategi bundling memang menjadi salah satu
andalan BT, terutama dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya,
operator yang sebelumnya bernama PT Ratelindo ini menempuh pula
strategi seperti kebanyakan pemain lain, yaitu hanya menjual kartu.
Tapi, ternyata hasilnya kurang maksimal. Pasalnya, vendor ponsel
tidak banyak mendatangkan ponsel CDMA dan harganya mahal. Maka,
BT mengambil inisiatif mengadakan ponsel sendiri, agar pasokan
ponsel CDMA yang ada di pasar bisa meningkat, dan tentunya
penjualan BT pun bisa meningkat. Selain itu, dengan strategi ini, BT
juga mengharapkan agar harga ponsel CDMA dapat ditekan menjadi
lebih murah.
 
Pengamat pemasaran yang juga konsultan OctoBrand, Sumardy,
menyebutkan bahwa langkah BT ini tak lain ditujukan untuk
memperbanyak customer based-nya. Menurutnya, salah satu syarat
utama di industri telekomunikasi adalah memiliki customer based yang
banyak, sehingga mencapai tingkat economic of scale. Jika tingkat
ekonomis itu sudah tercapai, baru pelan-pelan ditingkatkan
penggunaannya. 
BT, dikatakan Sumardy, sepertinya sadar bahwa problem yang
dihadapinya adalah dalam hal akuisisi pelanggan. Sebagai pemain
yang datang belakangan, BT tidak bisa mengambil posisi pasif, yaitu
mengharapkan konsumen datang kepada mereka. BT harus berperan
aktif untuk mendatangi konsumen. Harga murah merupakan cara yang
wajib ditempuh, karena tingkat persaingan di industri ini tergolong
sangat tinggi. Program bundling merupakan cara BT untuk mengurangi
hambatan dalam akuisisi pelanggan, dan harga murah ditujukan untuk
mengurangi barrier bagi konsumen untuk memperoleh akses pada
layanan mereka.
 
Erik sepakat dengan Sumardy. Karena itu, di saat pasokan ponsel
CDMA sudah cukup melimpah, BT tetap mempertahankan strategi
bundling-nya. Dengan tetap menjual secara bundling, BT berusaha
menurunkan harga ponsel CDMA sehingga bisa lebih terjangkau oleh
konsumen. 
 
Sumardy menyebutkan, efektivitas program bundling yang dijalankan
BT baru akan terlihat jika operator yang baru mendapat lisensi
nasional pada awal 2007 ini bisa mencapai titik critical mass, yaitu
mencapai jumlah pelanggan tertentu, di mana mereka bisa beroperasi
dengan efisien dan menguntungkan. Jika itu sudah tercapai, mungkin
mereka tidak akan mencari pelanggan baru terlalu banyak lagi, tapi
mereka berusaha meningkatkan penggunaan dari pelanggan yang
sudah ada.
 
Dalam satu periode, BT bisa menjalankan program bundling dengan
beberapa mitra secara serempak. Seperti yang terjadi saat ini, BT menawarkan tiga paket bundling secara bersamaan, yaitu hape Esia
(ponsel nonwarna) bekerja sama dengan Huawei, dengan LG untuk
ponsel warna, serta dengan Nokia untuk ponsel khusus segmen
wanita. Dengan cara seperti ini, konsumen tetap memiliki cukup
pilihan. Namun, BT tidak akan meluncurkan program bundling yang
ditujukan untuk target pasar yang sama dalam waktu yang
berbarengan. 
 
PENUTUP
 
Fenomena Bundling produk terutama di dunia telekomunikasi memang
sangat menarik. Dengan disediakannya Handset dengan harga
terjangkau, karena bersubsidi, maka otomatis akan memperbesar
prosentase kepemilikan telepon seluler di masyarakat. Di sisi lain,
masyarakat pembeli Hanset Bundling ini juga mempunyai ”kewajiban
moral” untuk terus memakai kartu operator yang ter-bundling di
dalamnya.
Sekarang, apakah tarif tetap akan menjadi driver utama dalam
memilih sesuatu ataukah masih ada driver lain yang lebih penting
seperti: coverage/distribusi/availability atau fitur yang canggih?
Apakah bundling masih menjadi metode yang efektif dalam
mengakuisisi dan meretensi pelanggan, ataukah akhirnya hanya
membebani expenditure operator dalam mensubsidi layanan?
Tentunya semua harus teruji di tahun-tahun ke depan. 
 
 
 
 
 DAFTAR PUSTAKA 
Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Strategi Dengan Orientasi
Global. Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga. 
Kotler, Philip dan Armstrong. 2000. Manajemen Pemasaran. Edisi
Millenium. Jakarta: Erlangga. 
Rangkuti, Freddy.Teknik Membuat Marketing Plan Berdasarkan
Customers Values & Analisis Kasus. www.fraimarketing.com. 2001
Yuliardi, Dony. Bundling – Sebuah Fenomena Perang Harga.
www.blogspot.com . 2007