Telekomunikasi Seluler: Menjaga Iklim Pasar yang Kompetitif

   
Di tengah usaha yang gencar dari pemerintah untuk bisa menarik investasi, persoalan kepastian hukum adalah salah satu aspek yang terus menjadi perhatian utama. Karenanya keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menjatuhkan hukuman kepada pihak Temasek Holding tentunya menjadi hal yang menarik untuk dicermati. Dalam keputusannya, KPPU menilai bahwa kelompok usaha ini dianggap telah melanggar pasal 27 UU nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, dimana pasal tersebut mengatur tentang posisi dominan di dalam sebuah jenis usaha yang sama.
Pada kasus ini, kelompok usaha Temasek terkait dengan persoalan yang menyangkut kepemilikan saham (share holder). Pasal 27 UU nomor 5 tahun 1999 tersebut disebutkan bahwa, pelaku usaha dilarang memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha dalam bidang yang sama pada pasar bersangkutan yang sama, atau mendirikan beberapa perusahaan yang memiliki kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan yang sama, apabila kepemilikan tersebut mengakibatkan: (a). satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu; (b). dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.
KPPU menyatakan dalam kasus ini kelompok usaha Temasek terlibat dalam dominasi bisnis telekomunikasi. Mereka tersebut harus membayar denda Rp25 miliar kepada pemerintah dan harus melepaskan seluruh kepemilikan saham di salah satu perusahaan yaitu Indosat atau Telkomsel.
Temasek juga diharuskan melepaskan hak suara dan hak untuk mengangkat direksi dan komisaris pada perusahaan yang sahamnya dilepas tersebut. Pelepasan saham dilakukan dengan cara masing-masing pembeli dibatasi pembeliannya 5% dari total saham yang dilepas agar saham tidak dimiliki secara mayoritas. Pembeli juga tidak boleh berasosiasi dengan Grup Temasek Holding dalam bentuk apapun.
Sedangkan dalam konteks penciptaan iklim persaingan usaha yang tidak sehat yang melanggar pasal 17 dan pasal 25 ayat 1 huruf b UU No.5/1999, KPPU menyatakan Telkomsel harus menurunkan tarif layanan seluler sekurang-kurangnya 15 persen dari tarif yang berlaku saat ini.
Perusahaan dominan
Mencermati fakta yang ada dilapangan menunjukan bahwa pihak Temasek Holding memiliki saham sebesar 35% di dalam perusahaan Telkomsel. Pihak Temasek memiliki saham tersebut melalui perusahaan Singapore Telecomunication (Singtel) Sedangkan untuk Indosat komposisi kepemilikan sahamnya adalah sebesar 40,37%. Berbeda dengan Telkomsel, Temasek Holding masuk dalam komposisi kepemilikan saham Indosat melalui perusahaan Singapore Technologies Telemedia (STT). Artinya dengan komposisi kepemilikan saham seperti ini pihak Temasek Holding setidaknya memiliki saham silang sebesar 75,4% dari kedua perusahaan telepon selular terbesar di Indonesia yang memiliki pangsa pasar (market share) masing-masing sebesar 55,6% untuk telkomsel dan 24,8% untuk Indosat pada tahun 2006.
Dalam perjalanannya, munculnya perdebatan dan persoalan mengenai kepemilikan silang tersebut berawal dari dilakukannya divestasi Indosat pada 2002. Ketika itu pihak Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd (STT) yang sahamnya dikuasai 100% oleh Temasek mengukuti proses penawaran, dimana pihat STT memberikan penawaran harga Rp12950 per lembar saham. Nilai ini sedikit di atas penawaran pihak Telecom Malaysia yaitu sebesar Rp 12650 per lembar saham.
Dengan nilai tersebut, maka pihak pemerintah Indonesia melepas 41,94% saham senilai US$ 630 juta, atau sekitar Rp 5,6 triliun. Padahal, sebelum divestasi dilakukan, Temasek melalui anak perusahaannya yang lain yaitu Singtel dan Singtel Mobile telah memiliki saham PT Telkomsel. Kondisi inilah yang melatar belakangi penilaian KPPU bahwa kelompok Usaha Temasek, secara tidak langsung, telah menguasai pasar seluler Indonesia dengan menguasai Telkomsel dan Indosat secara tidak langsung pula.
Mencermati kondisi tersebut, salah satu aspek penting yang harus dilihat adalah persoalan pangsa pasar, dalam hal ini terkait dengan struktur pasar yang tercipta yang mengarah pada terjadinya perusahaan dominan (dominant firm). Dalam penilaiannya, KPPU menyebutkan bahwa salah satu indikator pengarahan pada perusahaan dominan terbukti dengan terjadinya dominasi pangsa pasar kedua perusahaan sejak terjadinya struktur kepemilikan silang itu. Pangsa pasar Telkomsel dan Indosat secara bersama-sama sejak 2003-2006, menurut KPPU, sebesar 89,61%.
Dalam studi-studi organisasi industri yang berangkat dari pendekatan struktural, persoalan struktur pasar merupakan aspek yang cukup penting. Analisa yang menggunakan pendekatan disebut dengan analisa struktur-perilaku-kinerja (structure-conduct-performence/S-C-P). Pada dasarnya analisa S-C-P ini menekankan bahwa, struktur pasar akan mempengaruhi perilaku perusahaan di dalam pasar, dan perilaku perusahaan mempengaruhi kinerja pasar. Ada beberapa hal yang menjadi ciri dari paradigma ini, yaitu: (1)arah aliran yang searah, (2)didasarkan pada imperfect competition, (3) adanya intervensi pemerintah serta (4) menggunakan metode yang bersifat empiris.
Dengan aliran yang lebih searah tersebut, maka secara teoritis ada hubungan langsung antara struktur pasar, perilaku pasar dan kinerja pasar. Shepherd (1985) menyebutkan beberapa tipe pasar yang menjadi perhatian dalam organisasi industri. Mulai dari pasar monopoli murni (pure monopoli) sampai dengan kompetisi murni (pure competition) (lihat tabel).
Struktur pasar dalam organisasi industri menurut Clarkson dan Miller(1982), mengacu pada atribut-atribut pasar yang mempengaruhi secara alamiah dari sebuah proses yang kompetitif. Struktur pasar di sini termasuk ukuran dan jumlah distribusi perusahaan, hambatan dan kondisi masuk serta differensiasi produk.
Sementara menurut Burgess Jr(1989), struktur industri mengacu pada pengertian pada sekumpulan ciri-ciri, dimana setiap ciri tersebut memberikan pengertian pada sisi supply dari pasar. Misalnya saja, alamiah pasar (nature of the firm) yaitu memproduksi suatu produk, ciri-ciri biaya produksi dan masuk (production cost and entry), alamiah produk (nature of the product) termasuk bagaimana produk-produk tersebut didistribusikan serta ukuran dan jumlah perusahaan.
Dari struktur tersebut, kemudian mempengaruhi internal organisasional perusahaan, seperti kebijakan pekerja, kondisi kerja serta berbagai faktor lain, baik langsung atau tidak yang terkait pada alokasi sumberdaya perusahaan. Dimana terkait di dalamnya ialah, bagaimana mereka mempelajari desain dan diferensiasi produknya, penetapan harga, sampai dengan cara beriklan serta promosi penjualan. Dengan demikian akan semakin terlihat apakah sebuah perusahaan melakukan kolusi dengan perusahaan lain atau tidak, perilaku strategis (strategic behavior) yang dilakukan dari perusahaan tersebut. Hal-hal inilah yang dimaksudkan sebagai perilaku (conduct) dalam aliran S-C-P.
Berangkat dari pengertian tersebut, dapat kita lihat bahwa kepemilikan silang Temasek di Telkomsel dan Indosat itu telah menyebabkan perkembangan Indosat melambat dan tidak efektif dalam bersaing dengan Telkomsel. Pertumbuhan Indosat yang melambat itu ditandai dengan pertumbuhan BTS yang relatif tidak sepesat dibanding Telkomsel dan XL. Pada periode 2005-2006, jumlah penambahan BTS baru untuk Indosat hanya sekitar 2000 unit. Sementara untuk Telkomsel mencapai sekitar 6000 BTS dan 3000 unit BTS untuk XL.
Di sisi lain, struktur kepemilikan silang yang mengarah pada terciptanya struktur pasar tipe perusahaan dominan oleh kelompok usaha Temasek Holding ini juga berpotensi menyebabkan adanya ‘price leadership’ dalam industri telekomunikasi di Indonesia. Sehingga pihak Telkomsel sebagai pemimpin pasar kemudian berpotensi dapat menetapkan harga jasa telekomunikasi seluler secara eksesif.
Perilaku yang eksesif inilah yang juga sekaligus berpotensi menimbulkan kerugian bagi para konsumen. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai praktek kepemilikan silang Temasek atas dua perusahaan telekomunikasi Indonesia telah merugikan konsumen seluler Rp14,8 triliun-Rp30,8 triliun selama periode 2003-2006. Karenanya adalah menjadi sesuatu yang penting apabila saat ini pihak Telkomsel juga dituntut menurunkan tarif yang ada sekarang.
Pada dasarnya kasus ini mungkin bisa memengaruhi persepsi investor terhadap sebuah iklim usaha di Indonesia. Dampak itu bisa jadi positif ataupun negatif. Jika melihat IHSG yang ditutup turun 21,89 poin pada 2.646,81 dengan volume 3,16 miliar saham yang bernilai 3,74 triliun rupiah memang ada sedikit kekhawatiran mengenai kepastian usaha bagi investor asing di negara ini.
Namun di sisi lain, hukum yang tegas jelas diperlukan guna memastikan bahwa iklim kompetitif tetap terjaga dalam pasar Indonesia. Karena kompetisi yang telah tercipta khususnya di pasar industri telekomunkasi selular sesungguhnya telah menunjukan kepada kita bahwa melalui terciptanya iklim kompertisi yang baik, pada akhirnya akan menguntungkan konsumen. (Nugroho Pratomo & Radi Negara/ Litbang Media Group)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s