Ketika Persaingan Memaksa Anda harus Berubah

Ketika Persaingan Memaksa Anda harus Berubah

Melihat iklim persaingan bisnis di Indonesia di mana pemain besar atau asing sudah mendominasi di sektor keuangan, mineral, manufaktur produk material dasar sampai consumer products, chain retailer, information and services, ini merupakan tantangan setiap industri mampu menjadi unggul di bidangnya. Bagaimana suatu organisasi bisnis mampu mempunyai keunggulan? Ternyata ada dua hal dasar yang harus disadari bersama yaitu:

Faktor pertama adalah Kekuatan Intangible Assets. Realita kebanyakan pemikiran para owner dan top manajemen perusahaan masih banyak didominasi investasi berwujud sedangkan pengeluaran intangible assets-nya lebih dianggap sebagai biaya. Intangible Assets mencakup manajemen sistem, sistem informasi, kemampuan orang, sikap mental dan perilaku tiap individu, kepemimpinan, team work, brand image untuk produk atau perusahaan, layanan prima, motivasi seluruh karyawan dan budaya kerja. Di tengah negara dengan SDM berdaya saing rendah dibandingkan profesional negara lain dari sisi mental attitude dan behavior dan kompetensi teknisnya, apa yang harus dilakukan manajemen perusahaan?

Persaingan sekarang menuntut produk bermutu, pengiriman tepat waktu, layanan cepat, purna jual memuaskan dan harga bersaing maka tentunya membutuhkan keunggulan manajemen perusahaan untuk mengelola bisnis dengan ketajaman daya saing yang harus dibangun secara sistematis. Kemampuan membuktikan kepada pelanggan serta publikasi tentang kehandalan manajemen perusahaan menjadi senjata membangun citra perusahaan.

Perlu kita sadari bersama bahwa yang dulu kelihatan hebat sekarang sudah menjadi biasa-biasa saja, lalu apa yang terjadi dengan bisnis anda kalau hanya biasa-biasa saja?

Ada paradigma manajemen di banyak perusahaan sebagai berikut:

1. Untuk apa kita harus mendidik karyawan ? Toh kalau pandai atau terampil malah pindah ke pesaing. Kita yang melatih, pesaing yang menikmati.

2. Kita harapkan karyawan bekerja sekian lama harus makin pandai dan makin terampil dengan sendirinya. Kenyataannya belum tentu.

3. Membangun sistem manajemen, kemampuan karyawan, sistem informasi adalah merupakan biaya yang tidak jelas manfaatnya karena sering tidak secara instan dapat dilihat hasilnya.

4. Dengan percaya pada orang lama, toh perusahaan ini masih untung dan tidak perlu menghamburkan biaya membangun manajemen yang handal.

Di sisi lain ada paradigma manajemen melihat dari:

1. Ketergantungan dengan satu atau dua orang termasuk owner harus diminimalkan

2. Bulan madu tidak selamanya ada, mumpung perusahaan masih punya profit maka harus mempersiapkan kemampuan orang, sistem manajemen, budaya, infrastruktur dll

3. Kecepatan perubahan di luar harus diimbangani dengan kesiapan manusia, sistem, manajemen, kepemimpinan serta informasi yang tepat dan cepat

4. Bisnis tidak dapat hanya mengandalkan lobby atau hoki tanpa didukung kehandalan produk dan atau jasa dibandingkan pesaing.

Kedua paradigma di atas merupakan fakta yang ada di dunia bisnis, anda merupakan bagian dari paradigma pertama atau kedua? Tentunya masing-masing punya konsekuensi yang harus dihadapi.

Perlu disadari bahwa banyak diyakini bahwa persaingan sekarang dan mendatang ternyata faktor keunggulan yang mendominasi adanya di Intangible Assets bukan di Tangible Assets, lalu apa yang terjadi kalau sekarang anda masih berpikir bahwa Tangible Assets yang merupakan bentuk investasi utama. Ingat, apakah Nike, Reebok, Cisco punya pabrik sendiri untuk melayani seluruh dunia? Mereka pemimpin pasar di dunia karena Intangible Assets-nya sebagai kunci strategis.

Faktor kedua yang harus disadari adalah Perubahan Internal perusahaan untuk mengimbangi dan mengatasi persaingan dan tuntutan pasar yang berubah dengan cepat dibeberapa sektor bisnis. Perubahan dalam iklim persaingan dengan makin tanpa batasnya antar negara karena dipakainya teknologi telekomunikasi dan informasi makin menjadikan persaingan turbulen. Kesadaran Manajemen melakukan perubahan strategis, terarah, terencana, terpadu adalah yang terbaik dari pada mereka terpaksa melakukan karena terjepit situasi tertentu. Bagaimana caranya? Tentunya pola pikir dari setiap karyawan dan manajemen termasuk pemilik harus selaras dengan kebutuhan perubahan perusahaan karena factor eksternal. Tiap perusahaan berkepentingan memetakan peta persaingan dan perubahan dalam persaingan yang dimilikinya.

Untuk mengingatkan perlunya kesadaran mendalam dan menyeluruh dimulai dari pemilik atau manajemen puncak, maka kita perhatikan produk-produk cina yang membanjiri hampir semua sektor seperti elektronik, mainan anak, makanan, obat, kendaraan bermotor, perlengkapan rumah tangga, buah-buahan, material bangunan dll. Pola mereka sama dengan Jepang dan Taiwan pada awal mula mereka masuk pasar global dengan harga murah meskipun produknya banyak di-complain. Tapi ingat, mereka pasti menaikkan mutu produk untuk membangun kepercayaan setelah “harga murah” menjadi jurus pemasaran pertama mereka dan tentunya mereka akan juga membangun after sales service produk mereka melalui distribution network yang harus mereka miliki baik dibangun sendiri atau kerjasama dengan lokal partner untuk menunjang after sales service mereka. Selain itu, negara-negara maju mendukung dengan investasi mereka ke Cina untuk membangun manufaktur berteknologi tinggi, produktif, dan efisien guna memenuhi kebutuhan pasar global.

Salah satu faktor keberhasilan Cina menjadi dapur dunia adalah karena faktor mentalitas dan motivasi kerja yang luar biasa sehingga mereka mempunyai produktivitas kerja yang tinggi. Mereka bekerja bukan diukur oleh jam kerja melainkan oleh output yang harus mereka hasilkan. Bagaimana dengan pola pikir karyawan kita? Bagaimana dengan peraturan yang ada di negara kita? Apakah mendukung atau menciptakan kondisi yang membangun produktivitas kerja serta menjadi bagian dari budaya organisasi? Kesadaran untuk memacu pola pikir karyawan perusahaan menjadi dasar dalam keberhasilan anda membangun “Change Mangement” perusahaan. Timbul pertanyaan, change management-nya mau diarahkan ke mana? Apakah menunjang strategi perusahaan untuk membangun daya saing terhadap global player? Memang menjadi tugas pemilik, manajemen puncak dan manajemen madya untuk membangun kesadaran tadi sehingga kita mampu menggulirkan bola salju keseluruh karyawan perusahaan. Demikianlah prioritas utama tanggungjawab anda sebagai manajemen perusahaan.

Sadarlah bahwa Naga Sudah Bangun dari Tidurnya dan Mulai Mengibaskan Ekornya ke berbagai wilayah. Bagaimana anda mengatasinya? Bagaimana kita harus jadi Tuan di Negara Kita Sendiri yang punya berbagai kekayaan? Artikel berikutnya dalam mengulas Business Transformation Management adalah: “Ketika Strategi Pemasaran dan Penjualan Tidak Cukup”.

Sumber : Bussiness Execellent