Deposito, Aman Meski Tetap Berisiko

Selain tabungan, deposito tentu menjadi pilihan aman untuk menyimpan uang. Lalu, menguntungkankah bila menyimpan uang dalam mata uang asing di hari ini?

Masih bingung memilih produk simpanan bank yang aman dan pasti? Mengapa Anda tidak mulai melirik ke deposito? Menurut Mike Rini Sutikno, CFP, Financial Planning & Education dari MRedu, deposito merupakan produk simpanan di bank yang memiliki jangka waktu penyimpanan.

“Penyetoran maupun penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu saja, atau sesuai dengan jatuh temponya. Deposito juga dikenal sebagai tabungan berjangka,” papar Mike.

Kendati demikian, menurut Mike, rasanya kurang bijaksana bila semua uang yang dimiliki didepositokan. Idealnya, tetap harus melihat prioritas, uang yang dimiliki akan digunakan untuk apa saja. Sehingga, sebelum berinvestasi atau mengambil investasi, sebaiknya alokasikan dana terlebih dulu untuk emergency fund atau dana darurat cadangan.

Hal ini sangat penting dilakukan untuk menopang keuangan keluarga. Fungsinya, jika ada pengeluaran tak terduga, misalnya terkena musibah, rumah kebakaran, atau terkena PHK, Anda masih punya cadangan uang yang sudah dialokasikan ke dana darurat tadi.

Sedia Payung Sebelum Hujan
Bila tak memiliki dana cadangan, Mike mengingatkan, bisa-bisa uang tabungan anak, uang untuk membeli rumah, atau uang rencana pendidikan anak malah terpakai. Ruginya, bila mengambil dari sumber-sumber dana tadi, bisa jadi uang yang seharusnya dipakai untuk jangka waktu yang masih lama jadi tak tercapai, karena sudah habis untuk pengeluaran darurat tadi.

Sebaiknya, kata Mike, sebelum berdeposito, Anda sebaiknya menyediakan paying dulu sebelum hujan turun alias menyiapkan dana cadangan terlebih dahulu sebesar 6 sampai 12 kali pengeluaran keluarga per bulan. Bila dirasa terlalu besar, bisa saja hanya sebesar 3 kali pengeluaran keluarga per bulan saja.

Bila suatu hari nanti terkena musibah seperti kebanjiran, kebakaran, atau kendaraan hilang, meski ada asuransi yang akan mengganti, namun uangnya tak bisa langsung cair dan perlu waktu beberapa lama dalam mengurusnya. Sehingga, mau tak mau Anda harus memakai dana cadangan dulu, bukan?
Atau terkena PHK, misalnya, yang tidak tertutupi oleh asuransi. Padahal Anda masih harus tetap membayar banyak tagihan seperti iuran listrik, air, telepon, biaya makan sehari-hari, dan biaya sekolah anak. Jika punya dana darurat, Anda bisa mengambil uang dari sumber dana ini sampai mendapat pekerjaan kembali.

“Belum tentu, kan, dalam 3 bulan setelah di PHK langsung mendapat pekerjaan. Nah, dengan menyediakan dana cadangan untuk 6 bulan ke depan, akan membuat keluarga merasa aman dan terjamin,” jelas pembawa acara tetap di sebuah radio di Jakarta ini lagi.

Tujuan Deposito
Selanjutnya, deposito dapat dijadikan sarana untuk mengumpulkan dana darurat ini. Selain mudah diaskes, deposito juga dapat dicairkan kapan saja. Namun jangan lupa, bila dicairkan sebelum jatuh tempo, biasanya bila tak kena penalti, bunganya tak akan dibayarkan dalam sebulan berjalan.

Misalnya, mengambil deposito dengan jangka waktu (jatuh tempo) sebulan. Sebelum sampai sebulan, Anda sudah membutuhkan uang. Bisa saja dana ini dicairkan, dan jumlah pokoknya pun tidak akan hilang. Tetapi Anda harus memilih antara dikenai penalti atau bunganya tak dibayarkan selama sebulan berjalan. “Jika berdeposito tujuannya memang untuk kepentingan dana darurat, ambil saja yang jangka waktunya 1 bulan,” saran Mike.

Selanjutnya, jika tujuan berdeposito adalah untuk membeli atau membayar uang muka rumah, yang akan dibeli setahun mendatang, pilih saja deposito dengan jangka waktu 12 bulan. Bagaimana bila tujuannya tidak untuk apa-apa (hanya menabung saja)? Bila begitu tujuannya, Mike menyarankan, pilih yang yang jangka waktunya 1 bulan saja.

Lalu, bagaimana jika meminjam uang dari bank, kemudian uang itu didepositokan? Mike sangat tidak menyarankan hal ini, sebab suku bunga pinjaman (24 % atau 17 %) lebih tinggi dari bunga deposito (hanya 7 %). Bisa-bisa malah minus hasilnya.

“Kecuali jika uang pinjaman dari bank tadi langsung dipakai untuk modal usaha, tidak disimpan dulu. Hanya saja, bila usahanya baru dimulai, sebaiknya memang jangan meminjam dari bank, karena usahanya belum menghasilkan pemasukan. Kecuali, setelah usahanya mulai stabil dan ada keuntungan, uangnya bisa dipakai untuk membayar cicilan pinjaman.”

Mike juga menyarankan, sebaiknya jangan menyimpan uang (membuka deposito) dalam satu tempat, karena risikonya terlalu tinggi. Meski tabungan dan deposito memang aman, tetapi penegmbalian dananya akan di bawah inflasi.

Ibarat menabung di celengan, uangnya tidak akan berkembang. Sebagai gambaran, nilai uang Rp 100 juta saat ini, tentu tidak akan sama lagi dengan 10 tahun mendatang. Dan bila semua disimpan di deposito, sementara tingkat inflasi lebih tinggi dari suku bunga deposito, maka uang yang Anda simpan jadi tidak akan “berkembang”. Dengan kata lain, Anda hanya mengumpulkan uang saja, meski aman tetap ada risikonya.

Yang Mike sarankan adalah membagi uang simpanan secara proposional, yaitu dibagi untuk tabungan, deposito, saham, reksadana, membeli emas, membuka usaha, atau membeli properti. “Tetapi, pemilihan produk-produk sekuritas tadi sangat tergantung kepada profil risiko dari seseorang. Yang terpenting, memang harus punya tabungan dan deposito saja dulu.”

Sebagai pilihan untuk berdeposito, bank pemerintah direkomendasikan sebagai pilihan aman. Namun, jangan lupa untuk memperhatikan bentuk penalti atau jumlah suku bunganya.

Agar lebih jelas, Anda bisa mulai mengeceknya terlebih dahuklu melalui internet maupun Bapepam, untuk melihat profil bank mana yang paling sehat. “Jangan pilih bank yang menjanjikan bunga lebih tinggi dari bank lain. Waspadai hal itu!” tegas Mike.

Mengapa? Banyak orang mengeluhkan, saat ini bunga deposito tergolong kecil. Sebenarnya, menurut Mike, bunga deposito yang kecil justru baik untuk menstabilkan kondidi perekonomian. “Bayangkan kalau suku bunga tinggi, inflasi tinggi, orang-orang akan sulit untuk meminjam uang. Jadi, jangan menyimpan semua uang di deposito. Jika suku bunganya tinggi, bahkan sampai 30 %, bisa-bisa rencana usaha yang akan dilakoni akan jalan ditempat.”

Di samping itu, menyimpan uang dalam bentuk deposito juga bisa dalam mata uang asing, misalnya dalam dollar AS. Namun, yang harus diperhatikan adalah tujuannya. Bila untuk biaya sekolah atau kuliah anak di luar negeri, tentu akan menjadi baik hasilnya. Sebaliknya, bila tak ada tujuan yang pasti, hasilnya jadi tak akan maksimal.

“Iya, kalau nilai dollar-nya naik? Bagaimana kalau turun? Lebih baik menyimpan dalam rupiah saja. Biasanya, tingkat suku bunga mata uang asing, jauh lebih kecil dibandingkan rupiah, hanya 1 %. Kecuali bila ada rencana besar yang dituju, boleh saja menyimpan dalam dollar AS, misalnya. Bila untuk pegangan saja, tak perlu terlalu banyak menyimpan.” Nah, sudah siapkan Anda berdeposito?

Mencairkan Deposito
Sulit tidak sih mencairkan deposito? Asal syaratnya terpenuhi, mencairkan deposito amatlah mudah. Cukup membawa bilyet deposito, kartu tanda pengenal (KTP), karti ATM atau buku tabungan. Dana yang akan dicairkan dapat langsung ditransfer ke dalam rekening tabungan yang dimiliki.

Misalnya, deposito yang dimiliki Rp 30 juta, tetapi Anda hanya membutuhkan untuk mencairkan Rp 15 juta. Artinya, yang Rp 15 juta akan ditransfer ke rekening tabungan Anda, sisanya dimasukkan lagi ke deposito. Sebaiknya, bila sudah bisa mengumpulkan Rp 15 juta lagi, segeralah depositokan kembali. Bila ingin ditambahkan ke deposito lama, tunggulah sampai tanggal jatuh tempo, kemudian membuka deposito baru.

Mike menyimpulkan, tak ada satupun produk sekuritas yang lebih bagus dari yang lain. “Hal ini tergantung kepada investornya. Tiap produk pasti ada risikonya, bahkan tabungan yang paling aman pun tetap ada risikonya,” tandas Mike, yang sudah menulis buku Mewujudkan Rumah Idaman “Tips dan Trik Mendapatkan KPR” dan 120 Solusi Mengelola Keuangan Pribadi.

Plus & Minus Deposito
Sebelum buru-buru berkunjung ke bank dan menyimpan uang, sebaiknya Anda simak dulu sejumlah informasi penting seputar deposito berikut!

1. Setoran Minimal
Jumlah minimal penyimpanan deposito akan lebih besar daripada setoran awal ketika membuka rekening tabungan, yang dalam jumlah kecil (antara Rp 50 ribu sampai Rp 500 ribu). Maka, sebaiknya Anda harus memiliki jumlah uang lebih besar. Meski masing-masing bank berbeda-beda, rata-rata untuk berdeposito harus memiliki uang minimal Rp 5 juta.

2. Jangka Waktu
Dalam berdeposito, mengharuskan adanya pengendapan dana selama jangka waktu tertentu seperti 1, 3, 6, atau 12 bulan. Bahkan,a da pula yang jangka waktunya lebih cepat, yaitu 1-2 minggu. Dengan adanya jangka waktu ini, bila ingin menambah jumlah deposito, Anda tak dapat melakukannya sesuka hati. Sebaiknya, konsultasikan kepada pegawai bank bersangkutan.

3. Pencairan Dana
Dengan adanya jangka waktu, dana deposito juga tak bisa dicairkan begitu saja, melainkan hanya dapat dilakukan pada saat jatuh tempo saja. Jika tetap ingin mencairkannya sebelum jatuh tempo, Anda dapat terkena penalti (dipotong sekian persen, tergantung bank-nya) atau bunga tak dibayarkan selama sebulan ke depan.

4. Bunga Deposito
Bunga deposito lebih besar daripada bunga tabungan, sehingga dapat dijadikan sarana investasi dibandingkan tabungan biasa. Suku bunganya berbeda-beda pada setiap bank. Semakin pendek jatuh temponya, bunganya akan semakin rendah. Sebaliknya, jatuh temponya semakin panjang, suku bunganya pun akan semakin tinggi.

5. Risiko Rendah
Kendati bunganya lebih tinggi dari tabungan biasa, deposito termasuk produk simpanan yang berisiko rendah.
Noverita K. Waldan

2 thoughts on “Deposito, Aman Meski Tetap Berisiko

    • Cara menghitung bunga deposito sangat mudah, tidak serumit menghitung bunga harian tabungan. Lebih baik saya langsung kasih contoh saja ya supaya lebih jelas.

      Misalnya Anda menempatkan uang Anda dalam bentuk deposito sebesar Rp 10 juta dengan suku bunga 10% per tahun. Ingat pajak 20% jika uang Anda lebih dari Rp 7,5 juta! Berarti bunga bersih Anda setelah dipotong pajak adalah 8% per tahun.

      Nah, untuk menghitung jumlah bunga yang akan Anda terima adalah begini:

      BUNGA KOTOR per tahun = nominal uang Anda X suku bunga
      BUNGA BERSIH per tahun = bunga kotor – (tingkat pajak X bunga kotor)
      BUNGA BERSIH per bulan = (bunga bersih per tahun / 365) X jumlah hari dalam bulan berjalan

      Bingung? Rumit? Nggak lah… ayo kita hitung bunga deposito dari contoh di atas:

      BUNGA KOTOR per tahun = 10.000.000 X 10% = 1.000.000
      BUNGA BERSIH per tahun = 1.000.000 – (20% X 1.000.000) = 800.000

      Kalau bulan berjalan adalah bulan Agustus yang berjumlah 31 hari, maka bunga Anda untuk bulan Agustus adalah:

      800.000 / 365 X 31 = 67.945

      Kenapa dibagi dahulu dengan 365? Karena dalam 1 tahun ada 365 hari.

      Gak rumit kan? Apalagi kalau ngitungnya pakai kalkulator dagang, enak dan cepat sekali. Anda tinggal tekan:

      10juta X 10 % – 20 % / 365 X 31 hasilnya pasti sama. Tapi kalau pakai kalkulator scientific gak akan bisa enak gitu. Maka dari itu kalau menghitung uang paling enak pakai kalkulator dagang. Eh.. ngomong-ngomong tau kan yang dimaksud kalkulator dagang? Itu lho.. kalkulator yang biasanya tombolnya gede-gede..

      Ingat! Apabila Anda memiliki deposito dan tabungan dalam 1 bank dan total uang Anda lebih dari Rp 7,5 juta, maka bunga dari tabungan dan bunga dari deposito keduanya dikenakan pajak!

      Nah, sekarang Anda sudah tahu cara menghitung bunga deposito, ayo mulai menabung di deposito! Kalau Anda punya tabungan di Bank, begitu jumlahnya sudah mencapai jumlah minimal penempatan deposito (biasanya Rp 1 juta) akan sangat baik kalau Anda tempatkan ke deposito. Selain bunganya lebih tinggi, juga lebih aman karena tidak bisa Anda ambil kapan saja, jadi kemungkinan uang tersebut Anda ambil lebih kecil. Demikian terus menerus, maka Anda akan memiliki tabungan yang jumlahnya terus membesar.

      Oh ya, bunga deposito sebaiknya jangan diambil, tetapi di-roll over. Maksudnya, bunga deposito itu langsung masuk lagi ke nominalnya. Dalam contoh di atas, bila bunganya di-roll over, maka nominal deposito Anda akan menjadi Rp 10.067.945 dan bunga bulan selanjutnya dihitung berdasarkan jumlah tersebut, bukan dari 10 juta lagi. Jadi, bunga berbunga kan? Itulah yang namanya compound interest yang disebut oleh Albert Einstein sebagai salah satu keajaiban dunia. Dengan demikian, uang Anda akan lebih cepat lagi berkembang biak.

      Untuk lebih bijak….silahkan konsultasi dengan Bank anda untuk berdeposito..

      Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s